Oleh : Rizqo Kamil Ibrahim*
Ketika mendengar kata Imam Madzhab terbayang sosok para ahli ilmu dan juga ahli Ibadah yang beribu-ribu penuntut ilmu berguru kepada mereka lantas kemudian menyebarkan ilmu mereka ke seantero dunia. Mereka adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, semoga Allah merahmati mereka semua.
Mereka dengan satu sama lainnya kerap berbeda pendapat dalam berbagai permasalahan yang bersifat Furu' (cabang), namun dalam hal-hal yang bersifat Ushul (Pokok) perbedaan tersebut nyaris tidak ada atau dalam artian pandangan mereka satu.
Salah satu pokok dalam Agama Islam adalah masalah kedudukan para Sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang tinggi nan terhormat di dalam Agama Islam. Berikut kami nukilkan perkataan Imam al-Arba'ah berkenaan dengan kedudukan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam.
[1] Imam Abu Hanifah (Imam Madzhab Hanafi, wafat: 767M)
Imam Abu Hanifah -rahimahullah- berkata: “Kita tidak boleh menyebut seorang pun dari sahabat Nabi kecuali dengan sebutan yang baik.”[1]
[2] Imam Malik (Imam Madzhab Maliki, beliau merupakan guru Imam Syafi'I, wafat: 796M)
Imam Malik bin Anas Rahimahullah berujar, “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi atau ia merasa tidak senang dengan mereka, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam." Kemudian beliau membaca ayat:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau menjadikan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (al-Hasyr : 10) 2
[3] Imam As-Syafi'i (Imam Madzhab Syafi'i, wafat: 820M)
Imam Syafi’i Rahimahullah berujar, "Allah Azza wa jalla telah memuji para Sahabat Nabi di dalam Al-Qur’an, Taurat dan Injil. Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah memuji keluhuran mereka, sementara untuk yang lain tidak disebutkan. Maka semoga Allah merahmati mereka dan menyambut mereka dengan memberikan kedudukan yang paling tinggi sebagai shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.
Para Sahabat Nabi menyampaikan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita. Mereka juga menyaksikan turunnya wahyu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karenanya, mereka mengetahui apa yang dimaksud oleh Rasulullah, baik yang bersifat umum maupun khusus, yang hukumnya wajib maupun sebatas anjuran. Mereka mengetahui apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui tentang tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka di atas kita di dalam segala hal; dalam ilmu dan ijtihad; kehati-hatian dan pemikiran; dan hal-hal yang diambil hukumnya. Pendapat-pendapat mereka juga lebih unggul daripada pendapat-pendapat kita sendiri.”3
[4] Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Madzhab Hanbali, beliau murid dari Imam Syafi'I, wafat : 856M )
Imam Ahmad rahimahullah berujar,
“Di antara aqidah Islam adalah menyebut kebaikan semua sahabat Nabi dan menahan diri dari menyebutkan keburukan dan pertentangan yang terjadi di antara mereka. Orang yang mencaci para sahabat ridwanullah 'alaihim, atau salah seorang saja di antara mereka, maka ia telah berbuat bid’ah, berpaham Rafidhi (Syi’ah), serta berlaku buruk, dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
Mencintai Sahabat -radiyallahu 'anhum- merupakan ajaran Islam; mendo’akan mereka termasuk ibadah; mengikuti mereka merupakan jalan yang benar; memakai pendapat-pendapat mereka adalah suatu kemuliaan. Para sahabat sesudah al-Khulafa’ ar-Rasyidin, adalah manusia-manusia terbaik. Tidak boleh ada orang yang menjelek-jelekan mereka dan sebagainya. Apabila ada yang melakukan hal itu, maka Pemerintah wajib memberinya “pelajaran” serta sanksi dan tidak boleh membebaskannya.”4
Demikianlah penjelasan pandangan Imam arba'ah dalam tulisan yang singkat ini semoga bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin.
Catatan Kaki :
[1] al-Fiqh al-Akbar, hal. 304
[2] al-Hilyah, VI/327
[3] Manaqib Imam asy-Syafi’i, I/442
[4] as-Sunnah, Imam Ahmad, hal. 77-78
* Semua referensi di atas merupakan nukilan dengan sedikit perubahan dari: Aqidah Imam Empat yang merupakan terjemahan dari: I'tiqod al-Aimmah al-Arba'ah karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais penerbit Dar al-'Asimah Riyadh Terjemahan kitab secara lengkap dapat di download di : https://www.box.com/shared/ybhahvd68k
*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah
Ketika mendengar kata Imam Madzhab terbayang sosok para ahli ilmu dan juga ahli Ibadah yang beribu-ribu penuntut ilmu berguru kepada mereka lantas kemudian menyebarkan ilmu mereka ke seantero dunia. Mereka adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, semoga Allah merahmati mereka semua.
Mereka dengan satu sama lainnya kerap berbeda pendapat dalam berbagai permasalahan yang bersifat Furu' (cabang), namun dalam hal-hal yang bersifat Ushul (Pokok) perbedaan tersebut nyaris tidak ada atau dalam artian pandangan mereka satu.
Salah satu pokok dalam Agama Islam adalah masalah kedudukan para Sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang tinggi nan terhormat di dalam Agama Islam. Berikut kami nukilkan perkataan Imam al-Arba'ah berkenaan dengan kedudukan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam.
[1] Imam Abu Hanifah (Imam Madzhab Hanafi, wafat: 767M)
Imam Abu Hanifah -rahimahullah- berkata: “Kita tidak boleh menyebut seorang pun dari sahabat Nabi kecuali dengan sebutan yang baik.”[1]
[2] Imam Malik (Imam Madzhab Maliki, beliau merupakan guru Imam Syafi'I, wafat: 796M)
Imam Malik bin Anas Rahimahullah berujar, “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi atau ia merasa tidak senang dengan mereka, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam." Kemudian beliau membaca ayat:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau menjadikan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (al-Hasyr : 10) 2
[3] Imam As-Syafi'i (Imam Madzhab Syafi'i, wafat: 820M)
Imam Syafi’i Rahimahullah berujar, "Allah Azza wa jalla telah memuji para Sahabat Nabi di dalam Al-Qur’an, Taurat dan Injil. Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah memuji keluhuran mereka, sementara untuk yang lain tidak disebutkan. Maka semoga Allah merahmati mereka dan menyambut mereka dengan memberikan kedudukan yang paling tinggi sebagai shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.
Para Sahabat Nabi menyampaikan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita. Mereka juga menyaksikan turunnya wahyu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karenanya, mereka mengetahui apa yang dimaksud oleh Rasulullah, baik yang bersifat umum maupun khusus, yang hukumnya wajib maupun sebatas anjuran. Mereka mengetahui apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui tentang tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka di atas kita di dalam segala hal; dalam ilmu dan ijtihad; kehati-hatian dan pemikiran; dan hal-hal yang diambil hukumnya. Pendapat-pendapat mereka juga lebih unggul daripada pendapat-pendapat kita sendiri.”3
[4] Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Madzhab Hanbali, beliau murid dari Imam Syafi'I, wafat : 856M )
Imam Ahmad rahimahullah berujar,
“Di antara aqidah Islam adalah menyebut kebaikan semua sahabat Nabi dan menahan diri dari menyebutkan keburukan dan pertentangan yang terjadi di antara mereka. Orang yang mencaci para sahabat ridwanullah 'alaihim, atau salah seorang saja di antara mereka, maka ia telah berbuat bid’ah, berpaham Rafidhi (Syi’ah), serta berlaku buruk, dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
Mencintai Sahabat -radiyallahu 'anhum- merupakan ajaran Islam; mendo’akan mereka termasuk ibadah; mengikuti mereka merupakan jalan yang benar; memakai pendapat-pendapat mereka adalah suatu kemuliaan. Para sahabat sesudah al-Khulafa’ ar-Rasyidin, adalah manusia-manusia terbaik. Tidak boleh ada orang yang menjelek-jelekan mereka dan sebagainya. Apabila ada yang melakukan hal itu, maka Pemerintah wajib memberinya “pelajaran” serta sanksi dan tidak boleh membebaskannya.”4
Demikianlah penjelasan pandangan Imam arba'ah dalam tulisan yang singkat ini semoga bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin.
Catatan Kaki :
[1] al-Fiqh al-Akbar, hal. 304
[2] al-Hilyah, VI/327
[3] Manaqib Imam asy-Syafi’i, I/442
[4] as-Sunnah, Imam Ahmad, hal. 77-78
* Semua referensi di atas merupakan nukilan dengan sedikit perubahan dari: Aqidah Imam Empat yang merupakan terjemahan dari: I'tiqod al-Aimmah al-Arba'ah karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais penerbit Dar al-'Asimah Riyadh Terjemahan kitab secara lengkap dapat di download di : https://www.box.com/shared/ybhahvd68k
*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah
0 komentar:
Posting Komentar