Mengenal Nabi Lebih Dekat

05 Desember 2017

Keluar Kamar Mandi Kok Minta Ampun?


Salah satu doa yang Nabi -shalallahu 'alaihi wa sallam- ajarkan kepada ummatnya tatkala keluar dari kakus adalah "gufronak," atau yg berarti : "Aku memohon ampunanmu."

Tentu melihat ini, akan terlintas pertanyaan di benak kita, "habis (maaf) buang air kok meminta ampun?" Ternyata jawabannya sudah tertuang di pelbagai literatur ulama, diantaranya:

17 November 2017

22 Maret 2015

WARISAN BERHARGA NABI IBRAHIM



Pada awalnya, Makkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang hanya terdapat pasir di tengah terik yang menyengat.
Orang yang pertama kali meninggalinya adalah Hajar istri Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam yang dinikahi oleh Nabi Ibrahim setelah istri yang pertama, Sarah. Hajar awalnya adalah hadiah dari Raja Mesir pada waktu itu yang diberikan kepada Sarah untuk melayaninya.[1] Namun ketika Sarah menginjak usia menophause dan Nabi Ibrahim mulai beruban sedangkan mereka belum memiliki keturunan, Sarah menghadiahkan Hajar kepada Ibrahim agar menikahinya dengan harapan Allah akan memberikan keturunan yang sholeh.
Beberapa waktu kemudian lahirlah Isma’il dari rahim Hajar, yang pada akhirnya menimbulkan kecemburuan pada diri Sarah, yang baru akan melahirkan Nabi Ishaq empat belas tahun kemudian.[2] Untuk menghindari kecemburan Sarah, Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Isma’il menuju Makkah dan meninggalkan mereka dibawah sebuah pohon besar di sekitar tempat Zamzam keluar, serta beberapa perbekalan untuk mereka berdua, dan tak ada seorangpun di Makkah pada waktu itu.[3] Kemudian Ibrahim kembali menuju negeri Syam dan meninggalkan anak dan istrinya pada penjagaan Allah ‘azza wa jalla.
Tak lama kemudian habislah perbekalan mereka, lalu Allah menganugrahi mereka air Zamzam melalui melaikat Jibril setelah sang ibunda berusaha mencari makanan namun tidak menghasilkan apapun.
Beberapa waktu setelah mereka mendapatkan nikmat berupa Zamzam, datanglah kabilah Jurhum dari Yaman untuk tinggal berdampingan bersama Isma’il dan sang ibunda. Tumbuhlah Isma’il ‘alaihissalaam bersama kabilah Jurhum dan mempelajari bahasa Arab yang fasih dari mereka. Kemudian Isma’il ‘alaihissalaam menikahi wanita dari ‘Amaliq, namun sang ayah memerintahkannya untuk menceraikannya ketika berkunjung ke Makkah, kemudian menikahi wanita dari kabilah Jurhum yang bernama Sayyidah binti Madhadh bin ‘Amr Al Jurhumy.
Pembangunan Ka’bah
Pada kunjungan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berikutnya, beliau mengajak anaknya Isma’il untuk menjalankan salah satu perintah Allah ‘azza wa jalla yaitu untuk membangun ka’bah di sekitar Zamzam. Kemudian Ibrahim mulai membangunnya sedangkan Isma’il membantunya dengan memberikannya batu batuan untuk membangunnya, ketika bangunan mulai meninnggi, Ibrahim mengambil sebuah batu[4] dan berdiri di atasnya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Mereka menyelesaikan bangunan tersebut seraya berkata:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al Baqoroh: 127) [5]


Setelah ka’bah selesai dibangun Allah memerintahkan nabi-Nya untuk menyeru manusia agar melaksanakan haji.
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al Hajj: 27)
Itu adalah pertama kalinya disyariatkan haji ke Baitullah sampai ditetapkan oleh syariat Nabi Muhammad sebagai rukun Islam kelima.
Banyak riwayat menyebutkan bahwa pembangunan Ka’bah selesai pada abad 19 sebelum masehi.[6]
Kepengurusan Ka’bah
Pengurusan Ka’bah meliputi perawatan dan perbaikannya apabila rusak, pembersihannya serta segala macam yang berkaitan dengan kemaslahatan Ka’bah.
Berikut sejarah Kepengurusan Ka’bah sejak didirikan::
1. Isma’il ‘alaihissalam dan anaknya Nabit bin Isma’il

Sejak didirikan oleh Nabi Ibrahim kepengurusan ka’bah diserahkan kepada anaknya Isma’il hingga akhir hayatnya, lalu diteruskan oleh anaknya Nabit hingga meninggalnya, kemudian berpindah ke kabilah Jurhum


2. Kabilah Jurhum

Sepeninggal Nabit kepengurusan Ka’bah berpindah ke kabilah Jurhum, yang diawali oleh Madhodh bin ‘Amr Al Jurhumy, kakek Nabit dari ibunya, dan keturunan Isma’il pun bergabung dibawah kepemimpinannya. Pada masa kepengurusan kabilah Jurhum, Ka’bah tidak terjaga kesuciannya dan tersebar padanya kerusakan dan kedzoliman. Disebutkan bahwa pada masa ‘Amru bin Harits Al Jurhumy pula harta harta ka’bah yang dihadiahkan kaum Arab kepadanya saat berhaji hilang dan terkubur bersama sumur Zamzam. Keengganan mereka menjaga kesucian Ka’bah membuat Khuza’ah dan sekutunya memeranginya dan mengusirnya dari Makkah.[7]

3. Kabilah Khuza’ah

Sama seperti Jurhum, kabilah Khuza’ah juga berasal dari Yaman, mereka adalah keturunan ‘Amr bin ‘Amir yang meninggalkan Yaman ketika terjadi banjir besar. Mereka datang ke Makkah dan hidup berdampingan dengan Jurhum lalu pada akhirnya berhasil merebut kekuasaaan Ka’bah. Pemimpin pertama mereka adalah ‘Amr bin Luhay Al Khuza’iy, yang pergi menuju negeri Syam untuk berobat dan mendapati penduduknya menyembah berhala yang membuatnya kagum, yang akhirnya membawa beberapa berhala ke hadapan Ka’bah dan menambah ibadah ibadah baru. Kepemimpinan Khuza’ah berlangsung selama tiga sampai lima abad.

4.Kabilah Quraisy
Kaum Quraysy adalah keturunan Isma’il bin Ibrahim dari Kinanah dan tersebar hingga Syam dan Iraq pada masa kepemimpinan Khuza’ah, sampai tiba masa Qushay bin Kilaab, kakek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang keempat, yang tumbuh di kabilah Qudho’ah di negeri Syam. Qushay datang ke Makkah dan menikahi anak perempuan pemimpin terakhir Khuza’ah Hulail bin Habasyiyah Al Khuza’iy, yang setelah meninggal kepemimpinan ka’bah berpindah kepada Qushay bin Kilab, yang merupakan keturunan Nabi Isma’il ‘alaihissalaam. Qushay mengumpulkan kabilah Quraisy dan menempatkannya di sekitar Ka’bah dan membagi tugas tugas mereka untuk mengurus dan melayani para tamu-tamu Baitullah. Setelah meninggal kekuasaan mengurus ka’bah diserahkan ke anaknya yang pertama yaitu ‘Abdud Daar, hal itu berlangsung sampai zaman keislaman bahkan hingga saat ini.

Catatan Kaki: 
[1] HR. Bukhari: 3358
[2] Al Bidaayah wan Nihaayah: 1/447
[3] Fathul Baari: 6/401 dalam penjelasan hadits nomor 3364
[4]Batu ini yang disebut Maqaam Ibrahim yang saat ini masih ada beberap meter dari Ka’bah.
[5] Diringkas dari hadits riwayat Bukhari no. 3364 dan 3365
[6] As Siiroh An Nabawiyyah: 40
[7] Al Bidaayah wan Nihaayah: 3/180

Referensi:
  • Al Bidaayah wan Nihaayah karangan Ibnu Katsir
  • Fathul Baari karangan Ibnu Hajar Al Asqalani
  • As Siiroh An Nabawiyyah karangan Prof. Dr. Mahdi Rizqullah

    Khalid Abdurrahman, Mahasiswa Semester 5 Universitas Islam MAdinah

    Perintah Untuk Memakan Harta Yang Halal

    Arba'in Nawawi Hadits ke: [10]  

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى:         وَقاَلَ تَعَالَى:        , ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah  dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya. Allah berfirman: “Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah.” Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian.” Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: “Ya Robbku, Ya Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka  bagaimana doanya akan bisa dikabulkan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

    Diterjemahkan oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah 


    Larangan Untuk Banyak Bertanya dan Menyelisihi Tuntunan Rasulullah

    Arbain Nawawi Hadits ke: [9] 


    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر  قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr  dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.



    Diterjemahkan oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah 

    Kehormatan Seorang Muslim

    Arba'in Nawawi: Hadits Ke: [8] 


    عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  قَالَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ. رَواه
     الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ


    Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah  bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta  mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Ta’ala.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Diterjemahkan oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah 

    Agama Adalah Nasehat

    Arba'in Nawawi Hadits ke: [7] 

    عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي  أَنَّ النَّبِيَّ  قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

    Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad-Daari , bahwasanya Rasulullah : “Agama adalah nasehat.” Kami berkata: “Kepada siapa?”  Beliau bersabda: “Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya.”

     Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Diterjemahkan oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 7 Universitas Islam Madinah 





    06 Maret 2015

    Arbain Nawawi [6]: Menjauhi Syubhat Dalam Kehidupan

    عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  يَقُوْلُ: إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ


    Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhuma dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang melindungi dirinya dari perkara syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.

     Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki wilayah larangan dan wilayah larangan Allah adalah segala apa yang diharamkan-Nya. 

    Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” Riwayat Bukhari dan Muslim.

    Diterjemahkan Oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah

    Larangan Berbuat Bid'ah

    Arba'in Nawawi Hadits ke: [5] 

    عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَرَدٌّ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ.

    Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah Radhiyallahu 'Anha, dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya maka dia tertolak.” Riwayat Bukhori dan Muslim. 

    Dalam riwayat Muslim: “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak didasari oleh perintah  kami, maka dia tertolak."

    Diterjemahkan Oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah

    05 Desember 2014

    Urgensi Doa Sebelum Berhubungan Suami Istri dalam Membentuk Generasi Unggul

    Dulu ketika saya belajar ilmu pendidikan, para ahli memiliki pendapat masing-masing tentang kapan pendidikan itu dimulai. Ada yang mengatakan semenjak di dalam kandungan, dan pendapat lainnya. Intinya mereka berpendapat bahwa pendidikan harus dimulai sedini mungkin. Ketika saya belajar ilmu pendidikan Islam, ternyata Islam telah memulai pendidikan lebih dini ketimbang apa yang telah ditetapkan para ahli dari barat. Islam telah memperhatikan pendidikan semenjak memilih pasangan hidup.  Hal ini telah diisyaratkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firmannya:


    نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُم


    Isteri-isterimu adalah tempat kamu bercocok tanam (Al-Baqarah: 223)

    Allah subhanahu wa ta'ala telah mengumpamakan seorang istri ibarat ladang untuk bercocok tanam. Seorang petani yang ingin hasil panennya bagus tentunya tidak sembarang memilih tanah. Demikian juga dalam memilih pasangan. Terdapat isyarat dalam perumpamaan ini agar kita tidak sembarangan memilih pasangan hidup. Hal ini lebih diperjelas lagi dengan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam lainnya. Seperti 


    "fazhfar bidzati din taribat yadak" beruntunglah yang memilih karena agamanya. Atau,


    "Tazawwajul wadudal walud" nikahilah perempuan yang subur dan berkasih sayang. 


    "A nazharta ilaiha?" Sudahkah kamu melihatnya? "Fanzhur fa inna fi a'yunil anshar syai'a" lihatlah calonmu karena wanita Anshar ada sesuatu di matanya.


     Dan masih banyak sabda beliau lainnya yang mengisyaratkan kepada kita untuk benar-benar teliti ketika memilih.


    Diantara guna dari memilih pasangan yang benar adalah lahirnya para ulama. Dibalik nama besar para ulama terdapat seorang ibu yang shalihah. Sebut saja Imam Malik  rahimahullah yang ibunya selalu menasehati beliau untuk menghormati dan mengagungkan ilmu. Beliau selalu menasehati anaknya untuk mengenakan pakaian yang bagus untuk menghadiri majelis ilmu. Atau Imam Bukhari rahimahullah, ibunya selalu bangun malam mendoakan anaknya. Imam Bukhari  yang buta ketika kecilnya mendapatkan kembali penglihatannya di usia sepuluh tahun. Hal ini karena ibunya tidak pernah putus asa memohon kepada Allah untuk mengembalikan penglihatan anaknya.


     Selain memilih pasangan, memperhatikan adab ketika berhubungan suami istri juga merupakan bagian dari pendidikan terhadap anak. Salah satu diantara adabnya adalah mengucapkan doa sebelum melakukannya.  Doa tersebut tertuang dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa salam:


    لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ فَقَالَ بِاسْمِ اللهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا


    "Ketika salah seorang di antara kalian hendak mendatangi istrinya kemudian mengucapkan: 'Bismillah Allahumma Jannibna asy-syaithana wajannibisy-syaithana ma razaqtana'


    (Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami berdua dari syaithan, dan jauhkan pula syaithan itu dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami).


    Jika ditakdirkan terjadinya anak dari hubungan keduanya, maka syaithan tidak akan bisa mendatangkan bahaya bagi anaknya selamanya." [HR. Bukhari dan Muslim]


     Guru kami Syekh Abdurrahman Asy-Syamrani hafizhahullah pernah berpesan untuk mengajarkan sunnah (baca: tuntunan Nabi) ini kepada masyarakat. Sunnah  yang sudah sepatutnya dilakukan sepasang suami istri dalam rangka mendidik anaknya. Namun banyak umat Islam telah melupakan sunnah ini. Tidak tanggung-tanggung, guru kami malah menganjurkan agar mengajarkan sunnah ini pada kesempatan khutbah Jum'at. Artinya ditengah-tengah publik pun bukan suatu aib ketika seorang penuntut ilmu mengajarkan suatu kebaikan. Meskipun kebaikan tersebut berkenaan dengan perkara yang dianggap sebagian orang tabu untuk dibicarakan. Hal ini karena kita sama-sama melihat kenyataan yang menyedihkan. Media massa sering mengangkat isu-isu kenakalan remaja. Gadis-gadis hamil di luar nikah. Jumlah pengguna narkoba terus meningkat, dimana pelakunya sebagian besar adalah remaja. Itu yang tertangkap oleh media, nah yang tidak ketahuan kira-kira berapa jumlahnya? Tentunya kita tidak ingin hal ini terjadi dan tentunya kita sama-sama resah dengan keadaan ini.


     Melalui tulisan sederhana ini, setidaknya saya ingin melaksanakan wasiat guru kami untuk mengajarkan sunnah ini kepada masyarakat. Saya juga memandang sunnah ini memiliki peran besar bagi terciptanya sebuah masyarakat yang memiliki kualitas iman dan takwa. Kok bisa? Ya di awali dari sepasang suami istri. Ketika mereka berdua senantiasa mengamalkan doa ini. Allah akan menganugerahkan bagi mereka berdua anak-anak yang shalih. Maka lahirnya keluarga kecil yang dihiasi keimanan dan ketakwaan. Jika ada dua pasangan yang mengamalkan doa ini dan Allah menganugerahkan kepada mereka anak-anak yang shalih, maka akan ada dua keluarga yang dihiasi keimanan dan ketakwaan. Jika ada tiga, empat, sepuluh dan seterusnya. Bukankah masyarakat yang terdiri dari keluarga-keluarga tersebut adalah masyarakat yang beriman dan bertakwa? Maka berikut ini adalah saya paparkan sedikit penjelasan mengenai sunnah yang mulia ini.


    Kapan mengucapkan doa ini?


    لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ
    "Ketika salah seorang di antara kalian hendak mendatangi istrinya"

        Dari perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ini dapat kita ketahui kapan kita harus mengucapkan doa ini. Doa ini hendaknya diucapkan di awal ketika hendak berhubungan. Yaitu d
    i awal perbuatan atau sebelum melakukan muqaddimah cumbu rayu atau yang dikenal dengan istilah foreplay dan sebelum melepas pakaian. Bukan sebelum penetrasi ke lubang farj. Dalam suatu hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:

    سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا وَضَعُوا ثِيَابَهُمْ أَنْ يَقُولُوا بِسْمِ اللهِ


    Penghalang pandangan jin terhadap aurat anak cucu Adam adalah ucapan "BISMILLAH" ketika melepas pakaiannya. [HR. Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath]


    Hadits ini menunjukkan bahwa ketika kita melepas pakaian kita, jin ikut serta melihat dan menikmati aurat kita. Maka untuk menghalanginya hendaknya kita membaca bismillah sebelum melepas pakaian. Nah, bagi pasangan suami istri, jika mereka melepas pakaian untuk melakukan hubungan namun tidak mengucapkan bismillah. Maka jin ikut menikmati aurat mereka. Maka hendaknya ucapan bismillah kita lakukan sebelum melakukan perbuatan apapun dalam rangka menutup sekecil apapun celah masuk setan.


    Bagaimana Jika Lupa?

    Bagaimana jika lupa, dan baru ingat ketika melakukannya? Maka diucapkan ketika mengingatnya. 

    Hal ini berdasarkan salah satu riwayat hadits ini yang berbunyi "hina ya'tiya ahlahu" ketika sedang melakukan hubungan. Mayoritas riwayat hadits ini mengisyaratkan bahwa doa ini diucapkan sebelum melakukan. Adapun riwayat yang mengatakan "ketika melakukan hubungan" cenderung kepada makna bahwa doa tersebut boleh diucapkan ketika sedang berhubungan. Namun yang lebih utama adalah mengucapkannya sebelum melakukan hubungan dengan alasan:


    1. Mayoritas riwayat hadits ini mengisyaratkan bahwa doa diucapkan sebelum dilakukannya hubungan.


    2. Asal pengucapan bismillah memang ketika kita memulai suatu pekerjaan bukan ditengah-tengah pekerjaan. Mengucapkan bismillah di tengah pekerjaan lebih-lebih karena lupa diucapkan di awal. Sebagaimana ketika kita lupa mengucapkan bismillah sebelum makan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengajarkan untuk mengucapkan bismillah awwaluhu wa akhiruhu ditengah-tengah makan.


    3. Menutup pintu bagi setan hingga tidak ada kesempatan sedikitpun bagi mereka untuk ikut menikmati hubungan suami istri yang dilakukan oleh pasangan. Berbeda jika kita mengucapkannya ditengah-tengah, bisa saja di awal setan ikut mencicipi. Syaikhul Islam Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan sebuah atsar dari Imam Mujahid bin Jabr rahimahullah bahwa mereka yang melakukan hubungan suami istri dan tidak mengucapkan basmalah maka setan akan ikut menjima' istrinya. [Fathul Bari, bab ma yaqulur rajul idza ata ahlahu]



    Lalu makna lafadz doa selanjutnya: 


    Allahumma jannibnas syaithan


    "Ya Allah jauhkanlah kami berdua dari syaithan"


    Inilah salah satu penggalan dalam doa ini. Kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan. Doa ini menunjukkan kepada kita bahwa setan senantiasa ikut campur dan menggoda manusia. Hingga ketika seorang melakukan hubungan suami istri-pun setan masih juga ikut. Maka dari itu kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari gangguannya. Bagaimana setang mengganggu manusia yang sedang melakukan hubungan suami istri? Salah satunya dia ikut merasakan kenikmatan hubungan tersebut. Sebagaimana telah dijelaskan dalam atsar Mujahid tadi.


    Syekh Wahid Abdussalam Bali hafizhahullah dalam kitabnya Ash-Sharimul Battar mengatakan bahwa ada seorang jin yang sudah bertaubat mengatakan kepada beliau. Dulu sebelum bertaubat dia sering ikut merasakan kenikmatan tubuh istri yang dijima' oleh suaminya. Karena suaminya tidak membaca doa ini. Na'udzu billah…


    Doa ini juga merupakan benteng bagi sepasang suami istri dari sihir. Banyak kasus sihir pemisah yang menyebabkan pasangan suami istri tidak bisa melakukan hubungan. Kita tentunya sering mendengar ungkapan cinta ditolak dukun bertindak. Boleh jadi sang istri adalah primadona yang menjadi pujaan banyak lelaki sebelum dia menikah. Karena tidak rela dinikahi seorang lelaki, lantas pihak ketiga yang dengki dengan pernikahan tersebut menyihir mereka. Ada yang kasusnya kejantanannya  tiba-tiba melemah padahal sebelumnya bergairah. Ada yang mendapati seolah ada penghalang seperti daging di lubang farji istrinya. Ini semua adalah kerjaan syaithan dan tukang sihir la'natulah 'alaihim. Dengan doa ini insya Allah tipu daya mereka tidak akan berarti apa-apa. Setan mana yang berani mendekat jika Allah yang menjauhkannya dari kita? Dukun mana yang bisa menembus perlindungan Allah? Doa ini adalah salah satu perlindungan Allah yang paling kuat ketika dibaca oleh hambanya yang beriman.


    Syekh Abdussalam Bali hafizhahullah juga mengisahkan sebuah kisah nyata. Ada seorang pemuda yang mendakwahkan tauhid di suatu desa. Pemuda tersebut mengingatkan masyarakat tentang pentingnya tauhid dan bahaya syirik. Pemuda tersebut tidak takut menyebutkan kebusukan tipu daya tukang sihir. Di mimbar, di majelis, dan di manapun, bahkan dia secara terang-terangan menyebutkan nama-nama tukang sihir agar masyarakat waspada terhadapnya.


     Ada seorang tukang sihir di desa itu yang sangat terkenal. Ketenaran namanya ini dikarenakan dia sering memeras masyarakat untuk memberinya sejumlah uang. Jika ada pasangan yang akan menikah, dia harus datang ke dukun  itu untuk menyerahkan sejumlah uang agar proses pernikahannya langgeng. Bisa dibilang upeti lah. Jika tidak, jangan harap pasangan tersebut bisa melalui malam pertamanya dengan bahagia. Nah, pemuda tadipun mengingatkan masyarakat agar jangan mendatanginya dan jangan takut kepadanya. Namun sayangnya pemuda tadi belum menikah. Hingga akhirnya tiba saatnya dia menikah. Pemuda inipun merasa takut, jangan-jangan dukun tadi ini bisa mengganggu malam pertamanya. Akhirnya dia mendatangi Syekh Wahid dan menceritakan kejadian ini.


    Syekh mengatakan: "beritahu kepada dukun itu kapan hari pernikahanmu. Nyatakan bahwa anda menantangnya dengan izin Allah. Silahkan dukun itu mengganggu malam pengantin anda. Kalau perlu datangkan dukun-dukun lain untuk membantunya."


    Pemuda tadi ragu dan mengatakan: "anda serius syekh?"


    Syekh menjawab: "ya mengapa tidak? Kemenangan selalu berada di pihak orang-orang yang beriman."


    Masyarakatpun menunggu hari tersebut. Mereka bertanya-tanya siapa yang akan menang, dukun itu ataukah pemuda tadi? Namun setelah hari tersebut tiba. Ternyata pemuda tersebut tidak apa-apa. Dan dia melalui malam pengantinnya dengan aman dan bahagia. Masyarakatpun akhirnya semakin percaya dengan kebenaran dakwah tauhid. Allahu Akbar walillahil hamd. Salah satu benteng pemuda tersebut adalah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ini tadi. Kisah selengkapnya silahkan merujuk ke Kitab Ash-Sharimul Battar fi Tashaddi lis Saharatil Asyrar, hal: 210.


    Lafadz Selanjutnya: 


    Wa jannibis syaithana ma razaqtana


    "Dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami"


     Di sinilah letak keistimewaan pendidikan dalam Islam. Islam mendidik tidak hanya dengan pengajaran. Islam mendidik tidak hanya dengan perintah dan larangan. Namun Islam juga mendidik dengan doa. Model pendidikan inilah yang tidak pernah terpikirkan oleh barat. Bahkan mereka mengingkari dan tidak menganggapnya sebagai bagian dari pendidikan.


     Dari hubungan suami istri terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan terlahir seorang anak dan kemungkinan tidak terlahir seorang anak. Di atas kedua kemungkinan ini kita tetap dituntut untuk mengucapkan doa ini. Apabila dihasilkan seorang anak, maka kita akan mendapatkan keutamaan dengan selamatnya anak-anak kita dari godaan setan. Jika tidak, maka kita mendapat keutamaan dengan dicatatnya hubungan suami istri ini sebagai perbuatan yang bernilai ibadah. Maka alangkah ruginya mereka yang meninggalkan keutamaan doa ini dengan tidak mengucapkannya sebelum memulai hubungan.


    Ketika sang anak lahir setan tidak bisa mendatangkan bahaya bagi anak tersebut. Bahaya bagaimana? Yaitu bahaya fisik dan bahaya di dalam agamanya. Bahaya fisik seperti, kesurupan dan sihir. Masyarakat Arab mengenal suatu jenis jin yang suka mengganggu anak-anak yang disebut ummu shibyan, mungkin dalam budaya kita disebut kuntilanak. Allah subhanahu wa ta'ala akan melindungi anak-anak kita dari ummu shibyan berdasarkan hadits ini. Bagaimana bahaya dalam agama ? Tentu Setan sangat susah menjerumuskan anak Adam dari hasil hubungan yang diiringi doa ini ke dalam kemaksiatan.


    Ini adalah jaminan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Akankah kita meragukan janji Nabi kita yang tidak pernah berbohong ini? Sungguh keji sikap mereka yang ragu terhadap janji ini. Namun perlu dipahami, bukan berarti anak dari hasil hubungan ini akan lepas seratus persen dari dosa dan maksiat. Namun anak hasil dari hubungan suami istri yang diiringi doa ini akan masuk ke dalam golongan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya:


    إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ   


    Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu(yaitu setan) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, Yaitu orang-orang yang sesat.

    [Al-Hijr: 42]

    Juga firman-Nya:


    وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

    Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka akan segera ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka-pun tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, dan mereka mengetahuinya.

    [Ali Imran: 135]


    Dan firman-Nya:


    إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ


    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa ketika terjerumus ke dalam godaan syaitan, mereka segera ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

    [Al-A'raf: 201]

    Jadi bukan berarti anak-anak hasil hubungan yang disertai doa ini ma'shum (terbebas) dari perbuatan dosa. Mereka tetap sesekali terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Namun mereka segara menyadarinya dan segera memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala.


     Sering kita temui anak-anak yang diberitahu sekali oleh orang tuanya langsung nurut. Dan ada anak yang diberitahu berkali-kali tapi tidak nurut, istilah kerennya bandel. Ini jangan-jangan orang tuanya dulu tidak membaca doa ini ketika berhubungan. Maka untuk para orang tua jangan terburu-buru menyalahkan anak-anak anda ketika mereka bandel dan sulit diatur. Ingat-ingat!, dulu ketika anda berhubungan, sudahkah membaca doa ini?


    Sebagai tambahan, saya ingin menghadirkan bukti nyata dari kebenaran sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam ini. Yaitu bibi saya sendiri. Pernah suatu ketika beliau menanyakan, apakah ada doa yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa salam sebelum melakukan hubungan. Saya katakan, "ya ada". Oooh… kalau begitu yang kami lakukan benar. Beliau hanya ingin memastikan apakah doa yang beliau dapat di buku bacaan memang berdasarkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa salam atau tidak. 


    Kemudian beliau menceritakan bahwa tetangganya pernah menyakan, "nyonya kok anak kamu pinter, diberitahu sekali langsung nurut? La… anakku sampe bibir ini lepas, tetap bandel" Bibi saya menjawab, "pasti kamu dulu waktu berhubungan gk baca doa ya…?". He he iya eh…habis enak sih…


    Maka dari itu hubungan suami istri ini bukan hanya sekedar mencari kenikmatan dunia saja. Namun hubungan suami istri ini juga merupakan bagian dari pendidikan anak. Yang memiliki pengaruh terhadap proses pembentukan karakter mereka.


    Kota Nabi, 29 Shafar 1433 H


    Hamba Faqir, Haidir Rahman Rz, Lc. Alumnus Universitas Islam Madinah Fakultas Hadits  


    28 November 2014

    Tahukah Anda? Tiga Ulama yang Menikahi Putri Gurunya!

    Tiga Ulama yang Menikahi Putri Gurunya!

    1. Imam Said bin Musayyib menikahi putri guru terdekatnya yaitu sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

    2. Imam ibnu Katsir menikahi putri gurunya Abul Hajjaj Al Mizzi (Imam ahli Hadits di zamannya).

    3. Al Hafidz Nuruddin Al Haitsami menikahi putri gurunya Al Hafidz Abdurrahim Al Iraqy.

    Wallahu A'lam.

    Abu Hurairoh, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 4 Universitas Islam Madinah

    23 November 2014

    Hadits Arbain Nawawi [4]: Bagaimana Penciptaan Manusia?

    Hadits Arbain Nawawi [4] 

    عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ  قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ  وَهُوَالصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَاللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

    Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud  beliau berkata: Rasulullah  menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan:

     “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi darah yang menggumpal selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. 

    Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga  maka masuklah dia ke dalam syurga.” 

    (Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Diterjemahkan Oleh: Sofyan Saladin, Mahasiswa Fakultas Hadits Semester 6 Universitas Islam Madinah

    22 November 2014

    Melihat Sifat Fisik Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia pilihan. Oleh karenanya Allah ‘azza wa jalla menganugerahinya kesempurnaan ragawi ataupun ruhani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling indah penampilan fisiknya dan paling sempurna kepribadiannya. Kesempurnaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh insan lainnya.
    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek, tidak putih sekali (kulitnya) juga tidak kecoklatan. Beliau rambutnya tidak keriting pekat, juga tidak lurus terurai. Warna (kulitnya) kecoklatan, jika beliau berjalan, berjalan dengan tegak.
    Barâ` bin 'Azib berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lelaki yang berambut ikal, berpostur sedang, bahunya bidang, berambut lebat sampai cuping telinga.
    Ali bin Abi Thalib juga berkata menyifati diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang berperawakan sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulan (oval), bola matanya sangat hitam, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan, telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun (cepat), jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada tanda tanda kenabian, yaitu tanda para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paing mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandanganya tentu segan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.” Kemudian dia berbicara lagi, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.”
    Dalam sebuah riwayat darinya disebutkan, “Kepalanya besar, tulang-tulang sendirnya besar, bulu matanya panjang, jika berjalan seperti sedang berjalan di jalanan yang menurun.”
    Jabir bin Samurah berkata, “Mulutnya besar, matanya lebar dan tidak banyak tumpukkan dagingnya.”
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah berkulit putih bagaikan disepuh oleh perak, rambutnya agak bergelombang/ikal"
    Abu Thufail berkata, “Kulitnya putih, wajahnya berseri-seri dan perawakannya sedang-sedang (tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek)”
    Jaabir radhiyallahu ‘anhu berkata ketika mensifati kesempurnaan fisik Rasulullah : "Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam purnama, beliau mengenakan kain merah. Aku mulai memandang beliau dan bulan, ternyata beliau lebih indah dibandingkan bulan"
    Kesempurnaan fisik dan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat siapapun yang hidup di sekitar beliau akan mencintainya, bahkan orang yang belum melihatnyapun akan berharap bisa melihatnya.
    Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ )) مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِيْ لِيْ حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِيْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِى بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ ((
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Umatku yang amat sangat mencintaiku adalah manusia yang datang setelahku, salah seorang mereka berkeinginan seandainya ia dapat melihatku meskipun dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya." (HR Muslim)
    Salah seorang mengungkapkan perasaannya di hadapan al-Miqad bin al-Aswad, sebagaimana terdapat dalam kisah berikut:
    عَنْ جُبَيْرٍ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ قاَلَ جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ  بْنِ اْلأَسْوَدِ يَوْماً فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ: طُوْبَىْ لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتاَرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللهِ لَوَدَدْناَ أَناَّ رَأَيْناَ مَا رَأَيْتَ وَشَهِدْناَ مَا شَهِدْتَ
    Jubair bin Nufair meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: " Pada suatu hari, kami duduk di dekat Miqdâd bin al-Aswad. Lalu seseorang lewat sambil berkata (kepada al-Miqdâd): "Kebaikanlah bagi dua mata ini yang melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam." (Jubair menanggapi): “Demi Allah, kami berkeinginan melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan". [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]
    Bahkan syaithan pun tidak dapat menyerupai beliau:
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka". [HR Bukhari dan Muslim]
    Semoga pengetahuan kita tentang sifat sifat fisik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menambah kecintaan kita kepadanya. Dan orang-orang yang benar-benar cinta kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sekalipun tidak dapat melihat sifat fisik Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam secara nyata waktu di dunia, namun sifat-sifat, tuntunan dan ajaran beliau selalu hadir dalam hatinya.


    Diringkas dari:
    • Mukhtashor Syamaail Muhammadiyah karangan Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani
    • Ar Rakhiiqul Makhtuum karangan Syekh Shofiyyurohman Al Mubaarokfuury
    • Siroh Nabawiyah Sohihah karangan Dr. Akram Dhiyaa Al ‘Umary


    Oleh: Khalid Abdurrahman, Mahasiswa Fakultas Dakwah Semester 4 Universitas Islam Madianah

    Arsip

    Follow us on

    Copyright © Jejak Nabi | Powered by Blogger

    Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com